BULELENG , lacakkasus.com— Ketua KPU Provinsi Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, menegaskan bahwa generasi muda memegang peran strategis dalam menentukan arah masa depan daerah dan bangsa. Namun, peran tersebut hanya bisa dijalankan secara optimal jika anak muda memiliki pola pikir terbuka, kritis, dan berani keluar dari zona nyaman.
Menurut Lidartawan, kesempatan menempuh pendidikan hingga merantau ke luar daerah harus dimanfaatkan secara maksimal. Pengalaman, pengetahuan, dan jejaring yang diperoleh di luar daerah diharapkan dapat dibawa kembali untuk membangun daerah asal, bukan sekadar menjadi kebanggaan pribadi.
“Anak muda yang memiliki pemahaman kuat, khususnya dalam dunia politik, tidak akan mudah terombang-ambing oleh hoaks, propaganda, maupun janji-janji kosong yang kerap muncul setiap momentum politik,” tegas Lidartawan.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Edukasi Politik untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat yang digelar pada 7 Desember 2025 di Buleleng.
Kegiatan ini diikuti sekitar 120 peserta yang berasal dari kader Partai Demokrat, pengurus PAC se-Kabupaten Buleleng, mahasiswa, hingga sejumlah pejabat daerah. Acara dibuka oleh Ketua DPC Partai Demokrat Buleleng, Luh Gede Herryani, yang menekankan bahwa politik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat, melainkan hadir dan memengaruhi keputusan sehari-hari.
Sementara itu, perwakilan Kesbangpol Buleleng, Drs. Nyoman Widiartha, menyoroti pentingnya pendidikan politik di tengah derasnya arus informasi yang tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia mengingatkan bahwa tanpa literasi politik yang memadai, masyarakat berpotensi menjadi korban disinformasi.
Anggota DPRD Buleleng, Kadek Sumardika, menilai kegiatan edukasi politik semacam ini memiliki nilai strategis dalam memperkuat kesiapan kader dan masyarakat menghadapi kontestasi politik secara sehat dan berintegritas.
KPU dan Bawaslu Kabupaten Buleleng turut memberikan penguatan materi terkait pentingnya partisipasi pemilih serta bahaya laten politik uang yang dinilai masih menjadi ancaman serius bagi demokrasi lokal.
Dalam sesi diskusi, Lidartawan kembali menegaskan bahwa generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses demokrasi. Mereka harus tampil sebagai subjek perubahan dengan bekal pemahaman politik yang matang dan sikap kritis terhadap setiap informasi.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang muncul, menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap isu politik dan demokrasi.
Kegiatan ditutup dengan diskusi santai dan interaktif, sebagai upaya membuka ruang dialog yang inklusif agar masyarakat Buleleng dapat memahami politik secara lebih ringan, rasional, dan mudah dicerna tanpa kehilangan substansi.(Dantra)
Share this content: